JAKARTA - Optimisme kembali menyelimuti industri alat berat nasional memasuki tahun 2026.
Di tengah dinamika ekonomi global dan tantangan domestik, Perhimpunan Agen Tunggal Alat Berat Indonesia (PAABI) menilai prospek pasar masih bergerak ke arah positif. Proyeksi ini tidak hanya didorong oleh kebutuhan proyek besar, tetapi juga oleh pemulihan aktivitas di sejumlah sektor utama pengguna alat berat.
Pandangan tersebut disampaikan PAABI dengan mempertimbangkan berbagai faktor, mulai dari kondisi pemulihan pascabencana di beberapa wilayah hingga keberlanjutan proyek strategis nasional. Dengan pendekatan yang lebih realistis dan moderat, industri alat berat diproyeksikan tetap bertumbuh dibandingkan tahun sebelumnya.
Ketua Umum PAABI Yushi Sandidarma menyebutkan bahwa permintaan unit alat berat sepanjang 2026 diperkirakan berada di kisaran 23.000 hingga 25.000 unit. Angka ini mencerminkan keyakinan pelaku industri bahwa pasar domestik masih memiliki daya serap yang kuat.
Proyeksi Permintaan Alat Berat Tahun Ini
PAABI memandang tahun 2026 sebagai periode pemulihan yang lebih stabil dibandingkan 2025. Dengan estimasi permintaan 23.000–25.000 unit, volume penjualan alat berat diproyeksikan tumbuh moderat sekitar 5%–8% secara tahunan. Proyeksi ini telah memasukkan berbagai variabel risiko yang mungkin muncul.
“Kami kira dampak bencana (di Sumatra) lebih pada disrupsi regional dan recovery, bukan perubahan tren nasional industri alat berat secara keseluruhan. Jadi, tahun 2026 ini akan lebih baik daripada 2025. Tantangan tetap ada, tapi outlook positif,” kata Yushi kepada Kontan.co.id, Selasa (13/1/2026).
Menurut PAABI, pemulihan pascabencana di Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara justru akan menciptakan kebutuhan tambahan terhadap alat berat. Aktivitas rekonstruksi dan rehabilitasi diperkirakan memberi kontribusi positif meski bersifat regional.
Nilai Pasar Alat Berat Makin Menjanjikan
Dengan asumsi pertumbuhan permintaan yang moderat, PAABI memperkirakan total nilai pasar alat berat Indonesia mencapai sekitar US$ 3,62 miliar pada 2026. Angka ini menunjukkan bahwa industri masih memiliki ruang ekspansi yang cukup besar dalam jangka menengah.
Tak hanya berhenti di 2026, PAABI juga memproyeksikan pertumbuhan berkelanjutan hingga 2031. Total pasar alat berat nasional diperkirakan dapat mencapai sekitar US$ 4,89 miliar dengan laju pertumbuhan tahunan majemuk atau CAGR di kisaran 6%–8%.
Proyeksi jangka panjang ini didasarkan pada asumsi stabilitas pembangunan nasional, kelanjutan proyek infrastruktur, serta pengembangan sektor-sektor berbasis sumber daya alam dan mineral strategis.
Tambang Masih Jadi Penopang Utama
Dalam struktur permintaan, sektor pertambangan tetap menjadi kontributor terbesar bagi industri alat berat. PAABI memperkirakan sektor ini menyumbang sekitar 45%–50% dari total permintaan unit alat berat sepanjang 2026.
Permintaan tersebut mencakup aktivitas tambang batubara, nikel, serta mineral strategis lainnya. Kebutuhan alat berat di sektor ini masih tergolong tinggi karena sifat operasional tambang yang padat alat dan berkelanjutan.
Namun, dominasi sektor pertambangan juga membuat industri alat berat cukup sensitif terhadap kebijakan dan fluktuasi harga komoditas. Karena itu, pelaku industri dituntut untuk lebih adaptif dalam membaca arah pasar.
Peran Infrastruktur dan Proyek Nasional
Sektor konstruksi dan infrastruktur diproyeksikan menjadi pasar terbesar kedua dengan kontribusi sekitar 35%–40% dari total permintaan. Porsi ini mencakup kelanjutan pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN), proyek jalan tol, pelabuhan, serta berbagai Proyek Strategis Nasional.
Selain itu, sektor perkebunan dan kehutanan diperkirakan menyumbang sekitar 8%–10% permintaan alat berat. Sementara sektor industri dan lainnya memiliki potensi kontribusi sekitar 5% terhadap total pasar tahun ini.
“Industri alat berat 2026 tumbuh kuat, didorong proyek besar dan tambang. Tapi dengan kondisi yang semakin kompetitif, harus siap menghadapi persaingan, biaya teknologi, dan risiko harga komoditas yang bergerak fluktuatif,” tegas Yushi.
Tantangan RKAB dan Strategi Adaptasi Industri
Di sisi lain, pelaku industri juga mencermati kebijakan pemerintah terkait pemangkasan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) tambang. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia sebelumnya menyampaikan bahwa target produksi batubara 2026 sekitar 600 juta ton, turun sekitar 24% dari 2025.
Ketua IV PAABI Immawan Priyambudi menilai penurunan ini berpotensi mengurangi permintaan alat berat di sektor batubara, khususnya excavator, dump truck, dan bulldozer. Tambang batubara selama ini menyumbang sekitar 30%–35% dari total permintaan alat berat.
Dengan asumsi tersebut, penurunan target produksi bisa menekan penjualan alat berat sekitar 5%–10%. Meski demikian, PAABI tetap optimistis karena pelaku industri dapat mengalihkan fokus ke sektor lain yang potensinya masih besar.
Outlook Tetap Positif Meski Lebih Moderat
Immawan menegaskan bahwa pelaku Original Equipment Manufacturer dan distributor kemungkinan akan meningkatkan penetrasi ke sektor konstruksi, perkebunan, serta proyek mineral strategis. Tambang nikel dan proyek infrastruktur dinilai mampu menutup sebagian potensi penurunan dari batubara.
“Pemangkasan target batubara menjadi faktor penahan, tapi tidak mengubah arah positif industri secara keseluruhan. Outlook 2026 tetap tumbuh, hanya lebih moderat, dengan pergeseran dominasi ke sektor konstruksi dan tambang nikel,” tandas Immawan.
Dengan strategi adaptif dan diversifikasi pasar, industri alat berat Indonesia diyakini tetap berada di jalur pertumbuhan yang sehat sepanjang 2026.